February 3rd, 2010
Aneh. Sepertinya itu kata yang tempat untuk mendefinisikan segala yang bersemayam di kepala, bergelanyut di hati dan berjejal di setiap jejak perjalanan. Aneh karena akhirnya saya berani menulis lagi, berani keluar dari tempat persembunyian selama ini. Sembunyi? Tampaknya memang begitu. Saya berlindung dari banyak hal yang berputar di sekitar imajinasi. Takut macam-macam benda itu tiba-tiba bertabrakan dan berpencar tak beraturan menimpa kesadaran saya, sakit, pening dan lalu terjatuh pingsan. Padahal menulis adalah aktivitas yang begitu saja menjadi rutinitas sejak saya SD.
Seolah sebuah wahyu terberi yang tidak perlu dipacu melalui kursus-kursus atau dipancing dengan nilai pelajaran mengarang Bahasa Indonesia. Terjadi dan mencinta begitu saja. Sampai saya pernah menulis berlembar-lembar cerita pendek juga puisi. Dulu waktu SMP saya bahkan belum mempunyai mesik ketik atau komputer tapi berhasil begitu produktif menuangkan segala imajinasi seorang ABG. Caranya, saya menulis tangan di sebuah buku besar yang khusus dibeli. Lalu meminta tolong seorang teman yang jauh lebih mapan waktu itu untuk mengetikannya lewat komputer. Agak tidak enak memang. Tapi bagaimana lagi. Hanya berbekal menulis sebagus mungkin agar teman yang sudah direpotkan mengetik tidak bertambah tugas dengan menerjemahkan teks-teks yang sulit dibaca. Satu lagi bekalnya waktu itu, ucapan terima kasih dan selalu menjadi teman sebangkunya.
Tulisan itu memang tidak pernah menembus majalah-majalah komersil. Entahlah. Saya yang terlampau malas untuk terus menawarkan atau memang tulisanya tidak cukup menarik. Tulisan itu hanya berhenti menjadi hiburan teman-teman sekelas. Mereka selalu menjadi pembaca-pembaca setia setiap cerpen selesai diketik. Senangnya bukan main dapat memberikan hiburan alternativ pada teman-teman. Terkenal sebagai penulis di kelas sudah cukup waktu itu. Tidak ada ambisi yang lebih. Sampai akhirnya SMA. Ada kesempatan untuk menjadi wartawan kecil di sebuah media. Saya ikut melamar tentunya dengan mengorbankan rasa takut pada panitia ospek. Karena jadwal wawancaranya kebetulan sama dengan jadwal ospek. Tapi rupanya waktu itu saya lebih memilih sesuatu yang kelak menjadi bagian indah dalam masa depan yang saya pilih. Bangga rasanya mengenang saat itu. Bisa mengalahkan rasa takut terhadap sekelompok orang yang ingin menjadi sok dominan pada murid-murid baru. Huuuu bagi penganut ospek dengan kekerasan!
Kembali pada menjadi wartawan. Ya, di sini meski disertai dengan serangan rasa cemburu atau iri atau yang sekarang saya kenal dengan istilah political office dari para pekerja lawas, toh banyak sekali keberpihakan yang membawa saya pada pengalaman menarik. Saya bertemu banyak orang, berbicara dengan berbagai macam karakter, berpose dengan para senyum awak-awak cerdas, dan sebagainya, dan sebagainya. Waktu itu memang saya tidak terlalu mengerti banyak tentang arti menjalani profesi wartawan cilik dengan bayaran makan siang tersebut. Saya tahunya hanya senang karena setiap Minggu ada nama ‘desi’ di sudut kanan akhir artikel pada halaman 3 harian tersebut. Tidak jarang pula untuk menambah semangat, sang pemimpin redaksi (mas cemplon yang belakangan ingin sekali saya temui) menampilkan foto-foto awak yang bertugas minggu itu. Senang, karena pasti orang-orang di kampung atau pejabat sekolah yang berlangganan akan dengan jelas melihat keberadaan saya.
Tapi sekarang saya begitu paham akan banyak makna dari proses-proses tersebut. Tentang kesempatan, keberanian, kecintaan dan yang paling penting adalah tentang kekuatan sebuah tulisan. Kekuatan itu berangsur-angsur mendorong saya untuk akhirnya menerbitkan beberapa karya. Saya mampu menemukan cinta yang artinya kehidupan itu sendiri dengan pilihan untuk menularan energi melalui tulisan. Tidak sebagai tukang tato, peramal, penjual bunga, penjahit yang tentu sama-sama memiliki kekuatan tersendiri untuk mengalirkan kecintaan. Meskipun ada pada saat-saat tertentu saya akhirnya memilih untuk sembunyi. Saya memilih untuk berdiam di balik sesuatu yang bisa menyamarkan badan saya, pikiran saya, kata-kata saya bahkan tulisan-tulisan saya.
Tidak tahu persis penyebab saya enggan untuk menulis. Yang saya pahami waktu itu saya sudah mulai menjadi pekera profesional yang semakin ketat social order penentu nilai dalam berinteraksi. Jangan sampai terlalu ganjen mengumbar yang personal, sebisa mungkin menjadi orang yang berwibawa dan terus mengasah wawasan. Setidaknya itu yang saya tangkap waktu itu meski terus menjadi perdebatan batin tersendiri. Saya mulai goyah. Apakah menulis tentang sesuatu yang personal di blog (seperti kebiasan dulu) itu ganjen dan kurang intelek? Apa curhat di blog sendiri yang notabene akan dibaca banyak orang itu terlalu bergaya tidak dewasa? Atau perasaan pribadi yang akan diketahui publik itu perbuatan sembrono? Saya sibuk mencari jawaban-jawaban itu.
Saya merasa harus menentukan area menulis saya dengan lebih konsisten demi karier dan anggapan publik di mana saya tinggali sekarang. Proses yang saya kira lebih kompleks daripada yang saya tulis itu membuat saya biarkan blog bayaran saya menganggur dihantam virus begitu saja tanpa kalimat-kalimat yang baru. Saya tidak juga mengirimkan opini-opini agar dimuat di media. Saya lebih sering berada dalam sebuah ruang berdinding tinggi yang hanya menyediakan sedikit celah sebagai media berkomunikasi. Saya akan menulis jika ada yang memesan lewat celah kecil itu tanpa harus bertemu, berdiskusi atau berjanjian.
Dulu setiap kali dimuat saya pasti akan girang karena akan eksis dan mendapatkan bayaran. Tapi pada fase persembunyian saya itu, bayaran tidak lagi menjadi hal yang saya rindukan. Eksistensi juga saya hadapi dengan rasa biasa yang menjurus pada dingin. Apakah kondisi ini membuat saya tidak nyaman? Pasti. Saya kehilangan kekuatan untuk mengalirkan energi artinya saya memiliki energi yang terlalu berlebih. Tidak ada lagi hangat. Adanya hanya rasa panas yang sangat panas atau dingin yang begitu dingin. Tak terbagikan.
Terkadang terpikir juga apakah saya sedang hendak bermutasi soal pilihan kekuatan? Memang agaknya jadi lebih mirip proses pencarian jati diri. Kadang pikiran semacam itu membuat geli dan tertawa. Kegelisahan itu ternyata tidak pernah berujung. Manusia yakni saya ingin selalu menyelesaikan masalah untuk menciptakan masalah berikutnya. Seperitnya tanpa rasa gelisah, perjalanan hidup ini seperti hampa begitu saja. Dan waktu-waktu saya bersembunyi itu bukan kehampaan. Tapi kegelisahan baru yang ingin dicari pemecahannya. Saya menjadi terus memutar-mutar rekaman masa lalu dan mengkhayalkan masa depan saat keinginan menulis itu datang tapi tak pernah berhasil dilakukan.
Tapi sekarang sepertinya saya tidak peduli lagi dengan ujung dari kegelisahan-kegelisahan tersebut. Tentang menulis personal atau tidak. Ini kekuatan saya maka hanya saya yang paham tentang cara mengelolanya. Personal dan tidak itu adalah kemasan dan penilaian. Tulisan-tulisan ilmiah dengan mencantumkan referensi hingga catatan kaki juga sesuatu yang personal. Karena ada basis pilihan tentang cara pandang yang digunakan. Dan pilihan itu adalah personal. Mungkin saya sudah berhasil menemukan kegelisahan baru saya sehingga memutuskan untuk melihat hal personal dengan cara demikian. Sehingga saya memutuskan untuk kembali menulis dengan lebih membebaskan. Karena tanpa disadari saya sebenarnya selalu membiarkan energi-energi yang berhamburan dalam tubuh dan jiwa saya ini dengan begitu bebasnya. Buktinya saya tidak menolak untuk sembunyi atau saya tidak menolak untuk menyerah dari persembunyian. Saya menulis lagi. Saya memilih kekuatan itu lagi sebagai alat penyalur energi saya. Karena saya ingin cinta yang itu artinya hidup.
Leave a Reply