March 19th, 2009
Menulis. Saya sepertinya sedang mengalami masalah dengan kata tersebut. Bukan karena saya sudah menjadi frigid dalam keahlian merangkai kata hingga kalimat, tapi lebih pada suatu kebuntuan tentang tema apa yang hendak saya tulis. Mungkin keresahan tersebut akibat terlalu banyak hal yang saya alami dan lihat akhir-akhir ini. Sekilas memang seperti bukan hal yang mewah untuk dipikirkan sehingga tampak seperti membesar-besarkan hal yang sederhana. Tapi itulah kebenaran. Di mana menulis sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Entah hal tersebut hadir akibat arahan lingkungan sosial saya atau memang itu terberi begitu saja. Ya, ini semakin tidak penting lagi untuk direnungkan. Yang jelas jika Socrates mengatakan, ‘aku berpikir maka aku ada’, maka saya lebih memilih secara ganjen bahwa ‘aku menulis maka aku ada’.
Kembali pada persoalan kebingungan saya dengan menulis. Jujur, sebetulnya ketidakberhasilan saya untuk tidak menulis selama hampir satu bulan ini benar-benar membuat saya frustasi. Blog menjadi seperti tampilan mati karena lama tidak diperbaharui (update), website menjadi seperti media yang rumit karena seperti tidak memberi inspirasi apa-apa, dan buku-buku seperti kristal mewah yang terbeli tapi hanya dapat dipandang. Belum lagi dengan beberapa pertanyaan teman-teman media atau sesama blogger, yang terus menanyakan, mana tulisan barumu, kenapa blognya tidak update, dan seterusnya. Ini semakin membuat runyam metabolisme tubuh dan gejolak adrenalin. Saya hanya menjawab, ‘saya masih sibuk’, atau ‘saya kalau sudah malam mengantuk jadi sulit untuk menemukan waktu yang panjang untuk menulis atau sekedar bercerita’. Sebab memang bagi saya, menulis bukan hanya sekedar menyandingkan kata-kata dari yang diawali huruf besar sampai dipertemukan dengan titik. Tapi menulis menurut saya menjadi lebih daripada itu. Karena saya termasuk tipikal orang yang sulit untuk mengada-ada atau berpusing-pusing ria untuk memaksakan diri membuat tulisan sementara tidak ada rasa (feel) yang pas. Meskipun pada hakikatnya, menulis tetap saja tergantung pada kemauan yang dikelola ditambah sedikit kesabaran untuk mencari alat atau kajian yang tangguh untuk membedahnya. Karena bagi saya, akan menjadi sulit jika menulis hanya sekedar mengejar gengsi atau popularitas. Mungkin populer dari tuilsan itu sah saja. Tapi akan menjadi sesuatu yang kurang bermakna jika popularitas dijadikan suatu pijakan yang ambisius untuk setiap pilihan aktivitas menulis. Tampak idealis memang. Tapi setidaknya hal ini yang saya yakini. Karena tulisan merupakan salah satu cara mengespreksikan diri tentang segala hal yang sedang dipikirkan atau dirasakan. Tidak menutup kemungkinan bahwa tulisan tersebut hanya berhenti pada konsumsi sendiri. Tapi juga tidak jarang ini dapat dijadikan media informasi bagi subjek yang lain. Seperti hakikat orang-orang Mesir Kuno yang menciptakan tulisan (merupakan sejarah awal munculnya tulisan) dalam bentuk gambar (hieroglyph). Mereka menggambarnya pada dinding, piramida, tugu, maupun daun papyrus. Tujuanya adalah untuk dapat mendokumentasikan setiap komunikasi yang sedang atau hendak dilakukan. Karena jejak tersebut akan memudahkan sejarah untuk mengamankan masa lalu dan bertutur dengan lebih bijak bagi masa depan. Seperti halnya saya, menulis adalah sebentuk nafas yang harus dihirup dan dihembuskan dengan sempurna. Sehingga tidak menimbulkan kesesakan karena orang lain tidak paham tentang makna tulisan yang mungkin akan diterbitkan sekaligus membebaskan penulis dari ruang hampa udara. Di mana penulis juga menjadi terus belajar dari tulisan yang mungkin berbentuk reflektif. Dan penulis juga tidak kering inspirasi karena tulisan yang diterbitkan ternyata membuka peluang dialog bagi pembacanya, karena ada kritik dan saran di sana. Ah, sampai pada titik ini saya tetap saja belum menemukan tema apa yang hendak saya tulis.




Leave a Reply