Mun,

Begitulah aku memanggilmu sebagai cara mengagumimu. Aku tidak tahu apakah kau segenap hati sepakat dengan keputusanku memberimu nama baru itu. Namun yang pasti, aku merasa sangat senang karena bisa memperlakukanmu secara istimewa. Sebab bagiku yang istimewa berarti yang berbeda. Dan aku berani bertaruh bahwa tidak ada yang menyebutmu begitu selain diriku. Hopefully, it can give you a bit comfortable, as well.

Mun,

Ah, aku kembali seperti manusia yang seperempat dewasa. Ini memang gila. Masa mengingatmu saja bisa membuat pipi ini merona dan sulit menghentikan tarikan bibir yang terus memaksa membentuk lengkungan simetris. Kau memang luar biasa , Mun. Aku jadi ingat tentang apa yang terjadi tadi pagi. Seperti biasa kau mengawali hari dengan berjalan menuju arah selatan. Perjalananmu agak terganggu sepertinya karena jalanan becek akibat hujan yang cukup deras semalam. Tapi kau tetap melenggang dengan menebarkan keramahan juga kesederhanaan. Gayamu hampir tidak mengalami perubahan yang besar sejak dulu. Aku pikir penilaianku ini cukup beralasan. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghafalkan seluruh kebiasaan-kebiasaan unikmu. Rentang masa yang panjang itu juga sulit untuk aku tidak bisa menerima sisi menyebalkanmu dengan gembira. Seperti pagi tadi, tidak sedikit kau mengumpat di sela senyumu pada orang-orang di sepanjang jalan. Kau tidak suka hujan dan basah, itu aku paham. Karena menurutmu basah itu adalah salah satu gerbang menuju kotor. Dan tidak bersih itu sama sekali bukan pasangan tepatmu yang hanya memiliki baju berwarna putih.

“Stupid moment! And very damn!”, begitu katamu sepanjang perjalanan.

“Hahahaha”, aku menyemarakkan kekesalanmu, Mun. Katakan saja semua yang ada di benakmu. Supaya kau lega. Kalau perlu lakukan apa saja yang kauinginkan padaku. Aku pasti akan menikmatinya dengan biasa. Sebab kenyamananmu adalah yang utama bagiku.

“Aku tidak mungkin menyakiti orang lain hanya karena untuk memuaskan emosiku”. Aku sudah tahu kalau kau pasti akan berkata begitu. Kuperhatikan kau terus melaju dengan tergesa sambil menjaga agar air-air keruh itu tidak berubah menjadi noda di baju putihmu. Kau jadi tampak lebih memperhatikan bajumu daripada arah jalan yang sedang kau tempuh. Padahal jalanan begitu padat pagi itu. Maklumlah, semua orang berpikir sama bahwa harus segera sampai pada tujuannya di pagi yang becek itu.

“Tet..tet…”. Aku sudah bilang berkali-kali, hati-hati saja, Mun jalannya. Tidak apa-apa terlambat, toh kamu juga tidak pernah absen untuk datang 10 menit lebih awal. Bos tempat kerjamu pasti tidak akan menegurmu atau memecatmu. Itu bunyi klakson ke lima yang mengarah padamu. Karena sejak tadi kau ingin cepat sampai tapi terus sibuk memperhatikan bajumu. Jalanan ini sangat ramai, Mun.

“Ini bukan persoalan aku akan ditegur atau tidak kalau terlambat. Ini adalah masalah komitmen. Aku ingin membangun peradaban yang konsisten saja bagi dunia ini dalam segala hal. Dimulai dari yang dianggap kecil seperti ini”, terserah sajalah , Mun. Kau memang layak untuk menjalani kemandirian berpikirmu.

Melihatmu begitu lincah seperti ini membuatku bersemangat sekaligus cemas. Kadang kau jalan cepat. Sesekali berlarian kecil. Kau menyebrang tanpa melihat kanan dan kiri. Kau seolah mengabaikan semua aturan main dalam mewujudkan keselamatan pejalan kaki. Sementara hampir semua pengendara kendaraan pribadi bertingkah seenaknya. Asal cepat, bisa menghindari kemacetan, dan berupaya mampu untuk saling mendahului. Jalanan sudah seperti ajang kompetisi untuk meraih juara balap dunia. Tentu saja para calon juara itu adalah orang-orang yang merasa memiliki kuasa kepemilikan personal tadi. Selain itu, pajak pengendara kendaraan pribadi yang tentu lebih mahal membuat mereka seperti merasa telah ikut membeli jalanan ini. Karena sudah seperti miliknya, maka mereka kendarai saja sekehendaknya dan sedikit sekali memperhatikan orang-orang pejalan kaki atau yang bersepeda. Kau seolah menantang itu, Mun. Kau selalu berpikir bahwa jalanan tetaplah tempat umum di mana semua orang berhak menggunakannya. Lalu lalang mobil yang sembrono itu, kau tepis begitu saja. Suara-suara klakson yang membanjiri langkahmu tak juga menjadi sumber kegentaran. Kau tetap saja melenggang. Angkuh namun juga menawan. Ah, tapi kadang keyakinanmu itu terlau sepi, Mun. Sebab kompetisi tenyata lebih banyak peminatnya. Lihat saja saat kau tiba di perempatan itu. Seharusnya kendaraan yang dari arah kirimu berhenti karena lampu sudah menyala merah. Jadi ini waktu dari para penyebrang dari sisi kanan untuk lewat. Tapi mobil sedan itu sepertinya tak kalah tergesanya darimu. Pengendara itu seperti ingin menahan lampu kuning yang dilihatnya dalam jarak tempuh kurang dari lima meter. Kecepatannya ditambah agar tidak tertahan pada lampu merah. Tapi lampu sudah menyala merah tepat di saat pengendara itu sulit untuk berubah pikiran. Mobil tidak dapat dikendalikan. Kau pun tidak mungkin dihentikan lagi, Mun. Dan,

“Brakkkkk!!!! “ Kau terpental tanpa negosiasi, Mun! kecelakaan itu menjadikanmu tak sadarkan diri. Perih sekali rasanya mataku melihat semangatmu tercekat tak sempurna begitu.

Semua orang berkumpul membentuk kerumunan. Belum ada yang berani menolongmu, Mun. Padahal sudah jelas, darahmu banyak tercecer. Kau bisa mati tapi jangan. Kutembus gerombolan yang hanya bisa menghasilkan suara riuh bukan solusi itu. Aku angkat kau dan kularikan segera ke rumah sakit dengan taksi. Tidak jelas apa yang ada dalam otakku saat itu, Mun. Aku hanya ingin segera sampai ke rumah sakit dan memastikan kau baik-baik saja.

“Cepat, Pak. Kerahkan semua kemampuan menyetirmu agar nyawa orang ini dapat diselamatkan”. Aku memohon berkali-kali pada sopir taksi dengan suara yang bergetar. Aku ingin menjerit dan menangis, Mun. Sungguh, aku tidak sanggup melihat kelukaan ini. Bisakah kau merasakan ketidakmenentuan batinku melihatmu hampir hancur seperti ini. Meski kerupawananmu tidak luntur tapi aku sungguh tidak bisa berkawan dengan pucat pasi wajahmu. Segeralah bangun, Mun. Jangan kau buat hidupku tak lebih baik dari arwah gentayangan karena ingin menyusul kepergianmu dengan mengharap kematian. Apa yang harus kuperbuat agar kau tetap hidup, Mun?

Bersambung….