December 29th, 2008
Kenapa kamu berubah sekarang? Aku sepeti tidak mengenalmu lagi?
Dua pertanyaan itu terdengar sambil lalu, tapi ternyata justru menjadi sesuatu yang tidak berhenti di pikiranku. Karena pertanyaan itu muncul dari orang yang teramat dekat denganku. Dua perempuan luar biasa yang selalu ada dan akan ada itulah yang bicara langsung di depan kesadaranku, bahwa yang kulakukan dan kuucapkan seperti bukan lahir dari diriku yang sejati. Aku berubah? Kembali aku mempertanyakan itu pada diriku sendiri. Bagaimana, mengapa, dimana, siapa bahkan mungkin apa? Kata-kata itu mejadi penyerta kemudian. Setelah kupikir-pikir, memang ada benarnya mereka. Lagi pula terlalu sulit juga bagiku untuk tidak membenarkan mereka. Sebab keberadaan yang lama mungkin membuat mereka justru lebih paham tentang siapa diriku berikut kebiasaan-kebiasaanku, mulai dari yang norak sampai yang kelewat santun.
Yeahhh, semua berawal dari pertemuan dunia maya yang hampir tidak pernah absen kita lakukan. Oh Tuhan, chatting saja bisa gitu hanya dengan mereka. Tapi memang kok, duniaku terasa begitu nyaman meskipun hanya bicara dengan dua cecunguks (pake s) ini (hihihi). Tadinya kita hanya ngobrol tentang rencana tahun baru atau jadwal jalan-jalan selanjutnya. Tapi bukan kita kalau akhirnya tidak jadi merumpikan hal-hal pribadi. Hahaha… sepertinya memang sudah lama tidak ada yang privat pada kami bertiga. Persahabatan ini terlalu menggairahkan untuk sebuah rahasia. Maka, saat tiba giliran aku bercerita (jane yo ra sengojo ki, terbawa suasana kalian saja), mereka heran dengan yang kurasakan.
”Gila, itu hal ga penting untuk kau pendam”, mereka berteriak (chatting ko iso bengok-bengok).
”Speak up aja kenapa sii?? Desi gitu lo!”, belum sempat aku membela diri dan menjelaskan, mereka sudah mengamunisi lagi.
Mudah saja aku bicara. Tidak ada alasan yang rumit yang mencegahku untuk bicara. Itu jika merujuk pada kapasitas dirku sebagai manusia. Tapi sekali lagi, aku tidak mau dianggap merasakan atau berpikir tentang sesuatu yang sama sekali ada di dalam hatiku maupun otakku.
”Lah, tapi sekarang liat kenyataannya deh. Kamu merasa begitu kan?”, sanggah mereka (koor, hahaha).
Seharusnya aku tidak merasa itu karena jelas sekali bahwa sama sekali tidak ada yang penting. Tapi keadaan dan pilihan sikap si subjek yang lain itu membuat aku jadi seolah-olah begitu. Ya, aku tidak mau lah. Dan jika dikeluarkan sebagai bahan diskusi, maka akan cenderung menjadi bahan perdebatan. Jangankan didebatkan, dipikirkan saja begini sudah membuatku risih. Wong ga penting! La kalau dijadikan bahan diskusi malah jadi keliatan penting. Yo wagulah. Aku pengen ditemani di hari libur seperti hari ini saja, kadang luput dari pikirannya ko. Kan yang penting aku tahu dia cinta, lainnya pikir sambil jalan. Pfff…
”Jadi sekarang persoalannya ’desi gengsi’, begitu?”
Pertanyaan itu kusadari bukan sebuah ejekan, tapi rasa empati yang memang sangat tepat. Aku jelas gengsi! Kondisi dan kemapanan posisiku jelas membuatku menjadi teramat malas untuk disebut memiliki rasa dan pikiran yang mungkin akan dituduhkan. Untuk apa aku merasa begitu? Terlalu besar energi yang akan terbuang bukan?
”Bukannnnn”, (koor lagi mereka, asemmm.)
Tapi ya mbok biasa wae gitu lo. Bersikap yang biasa-biasa saja kalau memang itu tidak penting. Kalau sampai ada yang disembunyikan, justru membuatku jadi berpikir macam-macam, curiga dan sebagainya. Padahal aku akan sangat berlaku objektif dan kompormis untuk segala hal. La wong namanya membangun cinta, kan yo kudu ono tepo seliro. Kenapa dia tidak membaca kesadaranku itu? Kenapa? Kenapa?
”Ya, bisa dipahami kalau akhirnya kamu memilih diam, meskipun kamu adalah perempuan yang terlalu kuat untuk memilih bersandar pada kebisuan”.
Pada akhirnya mereka berhasil memahami kediamanku meskipun tidak ingin bersama-sama sepakat atas pilihan konyolku. Ada kekhawatiran aku kembali terjebak pada ’power game’ dalam berelasi. Aku sangat sadar rasa yang terpendam akan berpontensi menjadi ledakan yang luar biasa merusak nantinya. Artinya, sama saja aku sedang memelihara kerentanan dan menyiapkan ancaman sehingga menimbulkan bencana yang menyakitkan (ya ampunn bahasane…DRR banget!). Yowis..yowis.. tapi njuk piye nu??? Huhuhu… SOS!!!!!
TANDUKAN/NB/PS : Wuiihhh…. sudah larut. Ya sudah, mari kita lanjutkan besok. Tulisan yang tidak teratur dan ga jelas ini sepertinya memang hanya bisa dimengerti bagi orang-orang yang selingkaran saja atau cuma aku saja (haha, mbuhlah). Maaf. Thanks much for my great angles. You all are my best now and ever. Keep me on your cheerful, always!!! Semoga catatan ini membantu menjadikan protes yang terpendam itu terus jauh ke dalam, membusuk dan akhirnya terbuang, terlupa. Jadi tidak perlu ada yang meledak.
*Miz u so in the damn time like these darkness holiday. Hhh…
Leave a Reply