My Mun (Bagian 1)

Mun,

Begitulah aku memanggilmu sebagai cara mengagumimu. Aku tidak tahu apakah kau segenap hati sepakat dengan keputusanku memberimu nama baru itu. Namun yang pasti, aku merasa sangat senang karena bisa memperlakukanmu secara istimewa. Sebab bagiku yang istimewa berarti yang berbeda. Dan aku berani bertaruh bahwa tidak ada yang menyebutmu begitu selain diriku. Hopefully, it can give you a bit comfortable, as well.

Mun,

Ah, aku kembali seperti manusia yang seperempat dewasa. Ini memang gila. Masa mengingatmu saja bisa membuat pipi ini merona dan sulit menghentikan tarikan bibir yang terus memaksa membentuk lengkungan simetris. Kau memang luar biasa , Mun. Aku jadi ingat tentang apa yang terjadi tadi pagi. Seperti biasa kau mengawali hari dengan berjalan menuju arah selatan. Perjalananmu agak terganggu sepertinya karena jalanan becek akibat hujan yang cukup deras semalam. Tapi kau tetap melenggang dengan menebarkan keramahan juga kesederhanaan. Gayamu hampir tidak mengalami perubahan yang besar sejak dulu. Aku pikir penilaianku ini cukup beralasan. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghafalkan seluruh kebiasaan-kebiasaan unikmu. Rentang masa yang panjang itu juga sulit untuk aku tidak bisa menerima sisi menyebalkanmu dengan gembira. Seperti pagi tadi, tidak sedikit kau mengumpat di sela senyumu pada orang-orang di sepanjang jalan. Kau tidak suka hujan dan basah, itu aku paham. Karena menurutmu basah itu adalah salah satu gerbang menuju kotor. Dan tidak bersih itu sama sekali bukan pasangan tepatmu yang hanya memiliki baju berwarna putih.

“Stupid moment! And very damn!”, begitu katamu sepanjang perjalanan.

“Hahahaha”, aku menyemarakkan kekesalanmu, Mun. Katakan saja semua yang ada di benakmu. Supaya kau lega. Kalau perlu lakukan apa saja yang kauinginkan padaku. Aku pasti akan menikmatinya dengan biasa. Sebab kenyamananmu adalah yang utama bagiku. Read the rest of this entry »

Kisah Si Bapak

“Untuk apa memberikan materi peran perempuan pada masyarakat??!!”

Pertanyaan tersebut terdengar lebih mirip dengan hardikan. Kata-kata tersebut jelas ditujukan tepat di depan hidung mancung kami saat hendak meminta konfirmasi perihal undangan pembicara pada salah satu pejabat pemerintah siang itu. Mungkin hal tersebut dilakukan agar kami lebih kaya dalam hal perspektif. Tapi bisa juga sikap itu sebagai pencitraan seorang penguasa yang ingin menunjukan superioritasnya belaka tanpa substansi yang jelas.

Perbincangan dengan sang pejabat diawali dengan urusan perijinan dengan ajudan. Waktu itu kami menginginkan sang pejabat dapat memberikan materi tentang kebijakan pemerintah yang terkait dengan bencana. Hal ini kami inisiasi agar komunitas dampingan dapat termotivasi untuk bahu membahu mewujudkan sebuah kelompok yang berketahanan (cieeee). Tadinya, ajudan menyarankan agar tidak perlu menemui sang pejabat, karena materi-materi yang kami minta sudah sering bapak presentasikan. Jadi bapak sudah dapat dikategorikan ‘khatam’, tanpa perlu diberikan arahan lagi. Sampai disini, saya merasa geli juga. Apa mungkin seorang pejabat sekelas itu akan menggunakan lembar-lembar presentasi yang sama pada setiap kesempatannya tampil. Padahal belum tentu kelompok yang akan diceramahi tersebut memiliki karakteristik yang sama baik dari segi intelektualitas, kultur, maupun posisi politisnya. Siapa ini yang gila? Ajudannya yang sok tahu atau memang itu amanah dari seorang pejabat yang malas untuk sedikit berpikir? Read the rest of this entry »