February 17th, 2009
Begitulah aku memanggilmu sebagai cara mengagumimu. Aku tidak tahu apakah kau segenap hati sepakat dengan keputusanku memberimu nama baru itu. Namun yang pasti, aku merasa sangat senang karena bisa memperlakukanmu secara istimewa. Sebab bagiku yang istimewa berarti yang berbeda. Dan aku berani bertaruh bahwa tidak ada yang menyebutmu begitu selain diriku. Hopefully, it can give you a bit comfortable, as well.
Mun,
Ah, aku kembali seperti manusia yang seperempat dewasa. Ini memang gila. Masa mengingatmu saja bisa membuat pipi ini merona dan sulit menghentikan tarikan bibir yang terus memaksa membentuk lengkungan simetris. Kau memang luar biasa , Mun. Aku jadi ingat tentang apa yang terjadi tadi pagi. Seperti biasa kau mengawali hari dengan berjalan menuju arah selatan. Perjalananmu agak terganggu sepertinya karena jalanan becek akibat hujan yang cukup deras semalam. Tapi kau tetap melenggang dengan menebarkan keramahan juga kesederhanaan. Gayamu hampir tidak mengalami perubahan yang besar sejak dulu. Aku pikir penilaianku ini cukup beralasan. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghafalkan seluruh kebiasaan-kebiasaan unikmu. Rentang masa yang panjang itu juga sulit untuk aku tidak bisa menerima sisi menyebalkanmu dengan gembira. Seperti pagi tadi, tidak sedikit kau mengumpat di sela senyumu pada orang-orang di sepanjang jalan. Kau tidak suka hujan dan basah, itu aku paham. Karena menurutmu basah itu adalah salah satu gerbang menuju kotor. Dan tidak bersih itu sama sekali bukan pasangan tepatmu yang hanya memiliki baju berwarna putih.
“Stupid moment! And very damn!”, begitu katamu sepanjang perjalanan.
“Hahahaha”, aku menyemarakkan kekesalanmu, Mun. Katakan saja semua yang ada di benakmu. Supaya kau lega. Kalau perlu lakukan apa saja yang kauinginkan padaku. Aku pasti akan menikmatinya dengan biasa. Sebab kenyamananmu adalah yang utama bagiku. Read the rest of this entry »



