Wajah Perempuan di Parlemen

Dimuat di www.mediabersama.com tanggal 31 Desember 2008

Kontroversi dalam penyelenggaraan pemilihan umum 2009 kembali terjadi. Kali ini berkaitan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai penghapusan nomor urut. Beberapa partai politik mendukung regulasi tersebut demi mendorong keberhasilan proses demokrasi. Sebab dalam sistem nomor urut, calon anggota legislatif yang ada pada nomor urut belakang cenderung memiliki peluang yang kecil untuk menang. Suara yang berhasil didapatkan akan dilimpahkan kepada ccalon dengan nomor urut jadi.

Selain merugikan beberapa calon, para pemilih juga sering mengalami kekecewaan. Sebab calon yang dipilihnya justru tidak menang sementara yang tidak diminati justru mampu duduk di parlemen. Maka gagasan penghapusan nomor urut tersebut selain memberikan porsi persaingan yang lebih progresif juga dapat membuat para pemilih merasa tidak sia-sia untuk memberikan suaranya.

Namun hal ini tidak sejalan dengan beberapa calon perempuan. Dalam proses pemenuhan kuota 30% sendiri perempuan sudah mengalami beberapa kendala. Mulai dari terbatasnya sumber daya perempuan yang bersedia mencalonkan diri sebagai anggota parlemen hingga pandangan minor dari kultur patrarkhi yang terus menghujam kepercayaan diri kandidat perempuan. Apalagi saat ini ditambah dengan penghapusan sistem nomor urut. Hal ini praktis membuat perempuan harus memutar otak menentukan strategi kampanye yang jitu. Read the rest of this entry »

Aku Berubah?

Kenapa kamu berubah sekarang? Aku sepeti tidak mengenalmu lagi?

Dua pertanyaan itu terdengar sambil lalu, tapi ternyata justru menjadi sesuatu yang tidak berhenti di pikiranku. Karena pertanyaan itu muncul dari orang yang teramat dekat denganku. Dua perempuan luar biasa yang selalu ada dan akan ada itulah yang bicara langsung di depan kesadaranku, bahwa yang kulakukan dan kuucapkan seperti bukan lahir dari diriku yang sejati. Aku berubah? Kembali aku mempertanyakan itu pada diriku sendiri. Bagaimana, mengapa, dimana, siapa bahkan mungkin apa? Kata-kata itu mejadi penyerta kemudian. Setelah kupikir-pikir, memang ada benarnya mereka. Lagi pula terlalu sulit juga bagiku untuk tidak membenarkan mereka. Sebab keberadaan yang lama mungkin membuat mereka justru lebih paham tentang siapa diriku berikut kebiasaan-kebiasaanku, mulai dari yang norak sampai yang kelewat santun.

Yeahhh, semua berawal dari pertemuan dunia maya yang hampir tidak pernah absen kita lakukan. Oh Tuhan, chatting saja bisa gitu hanya dengan mereka. Tapi memang kok, duniaku terasa begitu nyaman meskipun hanya bicara dengan dua cecunguks (pake s) ini (hihihi). Tadinya kita hanya ngobrol tentang rencana tahun baru atau jadwal jalan-jalan selanjutnya. Tapi bukan kita kalau akhirnya tidak jadi merumpikan hal-hal pribadi. Hahaha… sepertinya memang sudah lama tidak ada yang privat pada kami bertiga. Persahabatan ini terlalu menggairahkan untuk sebuah rahasia. Maka, saat tiba giliran aku bercerita (jane yo ra sengojo ki, terbawa suasana kalian saja), mereka heran dengan yang kurasakan.

”Gila, itu hal ga penting untuk kau pendam”, mereka berteriak (chatting ko iso bengok-bengok).

”Speak up aja kenapa sii?? Desi gitu lo!”, belum sempat aku membela diri dan menjelaskan, mereka sudah mengamunisi lagi.

Mudah saja aku bicara. Tidak ada alasan yang rumit yang mencegahku untuk bicara. Itu jika merujuk pada kapasitas dirku sebagai manusia. Tapi sekali lagi, aku tidak mau dianggap merasakan atau berpikir tentang sesuatu yang sama sekali ada di dalam hatiku maupun otakku. Read the rest of this entry »

Kecantikan yang Egois

Perjalanan ini terlampau singkat untuk merapatkanmu pada sela nafasku yang panjang. Dalam setiap tarikan yang sulit untuk tersengal, kau seperti merengek ingin juga aku hirup. Tapi aku sungguh takut itu akan membuatku sesak dan menghentikanmu. Bersandarlah dulu sejenak disini, di dalam kehangatan yang erat, mungkin juga sangat. Aku bersumpah tidak akan mengingkarimu dalam batas kendali. Seluruhnya telah beratur dan berurutan. Kita pasti akan mengadu seluruh indra dalam basah peluh, dengan teriakan yang bebas kau suarakan. Tapi kali ini aku ingin hanya ada aku dan kau. Hanya ada kita dan kecantikan egois yang sempurna. Maka tunggulah, sampai semua orang terlelap dengan kepastiannya masing-masing. Hingga seluruh lampu kota meredup perlahan.

The Veil of Veiled Woman

Live in the place that is full of structure and cultural meaning, creates the unique dynamic. There are in the diversity point of view, dynamic of value realization, even conflicts. They likes of the environment that I do interact. I am a woman that grows in the society with the quite strong theology understanding, though I am not faithful like them. In this society, a woman is constructed as an asset, because the role is only as a reproductive source. This perspective makes the culture to defend the woman wholeness is implanted and inherited by go on. The wholeness here means the virginity value. The ‘good’ woman is only that the own hymen was torn by the legal husband genital. Thus, to protect the woman so that she always remembers that tradition, she should wear veil. It is called culture, something engaging that it particularly will form the social relation structure, social praxis, the symbolic systems and engage the identity group, cohesively.

 

Besides, the culture concept is a concept that will grow and follow the social change, involving all people activities. It relates with the value displacement of the veil and virginity. By the time, Virginity is not the absolute element in pretending the ‘good’ woman. Tradition of giving the hymen in ‘marriage first night’ is deemed as a gift to patriarchy power. Anyway, there is no rule of defending the ‘bachelorhood’. By the same token, the woman who is not virgin before the right time, whatever the reason, will accept the normative stigma. Woman, lastly, builds awareness, that her body has right to choose the own interaction object. Then, how about the veil? Here, veil experiences the value displacement that turns so far. Using the veil seems to use the ‘chasing’. It is only an expressive accessory. Veil appears as a symbol of a fashion, not a ‘virgin’ fortress, so that the woman always becomes the person without any ‘disrepute’. Based on that, we find the strong relation between the culture, value system, and the implication in social system. Since the culture has the strong relation with the humanity and social dimension, so the culture understanding is not defined as an ‘artifact’ but the process that can explain the social change direction.

 

The concept of culture is also appeared in the space and time that will provide the different understanding about role and essence culture, in the next. Since, so many people still agree with the culture to defend ‘virginity, through the different analysis.  Society in this discussion, says that keep the ‘virginity’ and ‘bachelorhood are two important things. This culture becomes the foundation in keeping public health. Since the endemics of HIV.AIDS, STD (Sexually Transmitted Disease) is assumed as the concrete implication of free sex activity. There is not only stopping in the normative idealism, but also in the veil symbolization. Now, we can find the logic explanation about relation of veil and virginity than before. ‘Veil’ is not only for head covering, but it is pressured on manifestation of self defensive of ‘body genital’. So, man should wear ‘veil’ as well so that the culture of interaction in society becomes discursive and transformative not dominative. Some action rationalities, that are written in above come in to the lexical conclusion that the word of ‘culture’ has the fluid meaning, covered by ratio and formulation.