June 25th, 2009
Dimuat di ICBC News
Jika merunut masa lalu maka ingatan kita akan bermain pada suasana masa kecil yang meriah setiap tanggap 21 April. Hari menjadi harus lebih cepat untuk diawali karena kebaya dan konde sudah menunggu untuk dikenakan. Orang tua kita akan menerangkan bahwa hari tersebut adalah hari Kartini sehingga harus berdandan dan berpakaian adat. Namun penjelasan mengenai hubungan antara hari Kartini dengan baju adat cenderung tidak disertakan. Sehingga pengetahuan kanak-kanak saat itu hanya sebatas pada bersikap sebaik mungkin saat melenggang dengan baju adat yang mungkin hanya sekali dalam setahun. Selebihnya menjadi sebuah pertanyaan yang mungkin dapat terjawab ketika dewasa kelak bahkan tidak sama sekali seumur hidup. Ironis memang. Sebuah perayaan hari kelahiran seorang pahlawan emansipasi perempuan terancam menjadi berhenti pada simbolisasi kebaya, konde, atau pakaian adat lainnya belaka. Hal ini setidaknya pernah menjadi perhatian insan media setahun yang lalu. Dalam pemberitaanya, reporter TVRI (Televisi Republik Indonesia) (2008) mewawancari beberapa anak-anak yang tengah merayakan hari Kartini di sekolah. Mereka ditanya tentang makna mengenakan baju adat di hari Kartini. Hampir semua anak tidak mengetahui secara pasti substansi perayaan hari itu. Realitas tersebut tentu menjadi refleksi tersendiri bagi para pejuang perempuan. Cara memperingati yang bersifat seremonial tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk kegagalan dalam menyampaikan pendidikan senstitiv gender pada anak. Padahal persoalan ketimpangan seperti yang juga diungkapkan Kartini merupakan persoalan kultural. Di mana aspek pendidikan dan sosialisasi menjadi faktor penentu konstruksi berpikir dan bertindak seseorang. Inilah hal yang penting untuk dicermati bahwa momen hari Kartini ternyata memiliki suatu peluang yang strategis untuk memberikan wacana sensitive gender bagi para generasi yang sedang tumbuh.
Dalam sejarahnya hari Kartini merupakan sebuah peringatan hari lahir Kartini sendiri yang tepat pada tanggal 21 April. Hal ini merupakan sebuah penghormatan kepada Kartini atas kiprahnya dalam mewacanakan emansipasi perempuan. Pada surat-surat Kartini, kita dapat menemukan banyak pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya mengenai penyimpangan budaya di Jawa yang dipandang sebagai tekanan yang menghambat masa depan dan kemajuan perempuan. Kartini begitu kuat menginginkan perubahan terhadap perempuan agar memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini mengungkapkan ide dan cita-citanya, seperti yang tercatat dalam : Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu berpijak pada Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), yang dilengkapi dengan dengan humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan nasionalisme (cinta tanah air). Read the rest of this entry »



