…..

sedang tidak ada waktu

untuk sedikit bermutu

biar saja begini membeku

seperti iringan salju

yang membuat matahari enggan beradu

Menulis. Saya sepertinya sedang mengalami masalah dengan kata tersebut. Bukan karena saya sudah menjadi frigid dalam keahlian merangkai kata hingga kalimat, tapi lebih pada suatu kebuntuan tentang tema apa yang hendak saya tulis. Mungkin keresahan tersebut akibat terlalu banyak hal yang saya alami dan lihat akhir-akhir ini. Sekilas memang seperti bukan hal yang mewah untuk dipikirkan sehingga tampak seperti membesar-besarkan hal yang sederhana. Tapi itulah kebenaran. Di mana menulis sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Entah hal tersebut hadir akibat arahan lingkungan sosial saya atau memang itu terberi begitu saja. Ya, ini semakin tidak penting lagi untuk direnungkan. Yang jelas jika Socrates mengatakan, ‘aku berpikir maka aku ada’, maka saya lebih memilih secara ganjen bahwa ‘aku menulis maka aku ada’.

Kembali pada persoalan kebingungan saya dengan menulis. Jujur, sebetulnya ketidakberhasilan saya untuk tidak menulis selama hampir satu bulan ini benar-benar membuat saya frustasi. Read the rest of this entry »

My Mun (Bagian 1)

Mun,

Begitulah aku memanggilmu sebagai cara mengagumimu. Aku tidak tahu apakah kau segenap hati sepakat dengan keputusanku memberimu nama baru itu. Namun yang pasti, aku merasa sangat senang karena bisa memperlakukanmu secara istimewa. Sebab bagiku yang istimewa berarti yang berbeda. Dan aku berani bertaruh bahwa tidak ada yang menyebutmu begitu selain diriku. Hopefully, it can give you a bit comfortable, as well.

Mun,

Ah, aku kembali seperti manusia yang seperempat dewasa. Ini memang gila. Masa mengingatmu saja bisa membuat pipi ini merona dan sulit menghentikan tarikan bibir yang terus memaksa membentuk lengkungan simetris. Kau memang luar biasa , Mun. Aku jadi ingat tentang apa yang terjadi tadi pagi. Seperti biasa kau mengawali hari dengan berjalan menuju arah selatan. Perjalananmu agak terganggu sepertinya karena jalanan becek akibat hujan yang cukup deras semalam. Tapi kau tetap melenggang dengan menebarkan keramahan juga kesederhanaan. Gayamu hampir tidak mengalami perubahan yang besar sejak dulu. Aku pikir penilaianku ini cukup beralasan. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghafalkan seluruh kebiasaan-kebiasaan unikmu. Rentang masa yang panjang itu juga sulit untuk aku tidak bisa menerima sisi menyebalkanmu dengan gembira. Seperti pagi tadi, tidak sedikit kau mengumpat di sela senyumu pada orang-orang di sepanjang jalan. Kau tidak suka hujan dan basah, itu aku paham. Karena menurutmu basah itu adalah salah satu gerbang menuju kotor. Dan tidak bersih itu sama sekali bukan pasangan tepatmu yang hanya memiliki baju berwarna putih.

“Stupid moment! And very damn!”, begitu katamu sepanjang perjalanan.

“Hahahaha”, aku menyemarakkan kekesalanmu, Mun. Katakan saja semua yang ada di benakmu. Supaya kau lega. Kalau perlu lakukan apa saja yang kauinginkan padaku. Aku pasti akan menikmatinya dengan biasa. Sebab kenyamananmu adalah yang utama bagiku. Read the rest of this entry »

Aku Berubah?

Kenapa kamu berubah sekarang? Aku sepeti tidak mengenalmu lagi?

Dua pertanyaan itu terdengar sambil lalu, tapi ternyata justru menjadi sesuatu yang tidak berhenti di pikiranku. Karena pertanyaan itu muncul dari orang yang teramat dekat denganku. Dua perempuan luar biasa yang selalu ada dan akan ada itulah yang bicara langsung di depan kesadaranku, bahwa yang kulakukan dan kuucapkan seperti bukan lahir dari diriku yang sejati. Aku berubah? Kembali aku mempertanyakan itu pada diriku sendiri. Bagaimana, mengapa, dimana, siapa bahkan mungkin apa? Kata-kata itu mejadi penyerta kemudian. Setelah kupikir-pikir, memang ada benarnya mereka. Lagi pula terlalu sulit juga bagiku untuk tidak membenarkan mereka. Sebab keberadaan yang lama mungkin membuat mereka justru lebih paham tentang siapa diriku berikut kebiasaan-kebiasaanku, mulai dari yang norak sampai yang kelewat santun.

Yeahhh, semua berawal dari pertemuan dunia maya yang hampir tidak pernah absen kita lakukan. Oh Tuhan, chatting saja bisa gitu hanya dengan mereka. Tapi memang kok, duniaku terasa begitu nyaman meskipun hanya bicara dengan dua cecunguks (pake s) ini (hihihi). Tadinya kita hanya ngobrol tentang rencana tahun baru atau jadwal jalan-jalan selanjutnya. Tapi bukan kita kalau akhirnya tidak jadi merumpikan hal-hal pribadi. Hahaha… sepertinya memang sudah lama tidak ada yang privat pada kami bertiga. Persahabatan ini terlalu menggairahkan untuk sebuah rahasia. Maka, saat tiba giliran aku bercerita (jane yo ra sengojo ki, terbawa suasana kalian saja), mereka heran dengan yang kurasakan.

”Gila, itu hal ga penting untuk kau pendam”, mereka berteriak (chatting ko iso bengok-bengok).

”Speak up aja kenapa sii?? Desi gitu lo!”, belum sempat aku membela diri dan menjelaskan, mereka sudah mengamunisi lagi.

Mudah saja aku bicara. Tidak ada alasan yang rumit yang mencegahku untuk bicara. Itu jika merujuk pada kapasitas dirku sebagai manusia. Tapi sekali lagi, aku tidak mau dianggap merasakan atau berpikir tentang sesuatu yang sama sekali ada di dalam hatiku maupun otakku. Read the rest of this entry »

Kecantikan yang Egois

Perjalanan ini terlampau singkat untuk merapatkanmu pada sela nafasku yang panjang. Dalam setiap tarikan yang sulit untuk tersengal, kau seperti merengek ingin juga aku hirup. Tapi aku sungguh takut itu akan membuatku sesak dan menghentikanmu. Bersandarlah dulu sejenak disini, di dalam kehangatan yang erat, mungkin juga sangat. Aku bersumpah tidak akan mengingkarimu dalam batas kendali. Seluruhnya telah beratur dan berurutan. Kita pasti akan mengadu seluruh indra dalam basah peluh, dengan teriakan yang bebas kau suarakan. Tapi kali ini aku ingin hanya ada aku dan kau. Hanya ada kita dan kecantikan egois yang sempurna. Maka tunggulah, sampai semua orang terlelap dengan kepastiannya masing-masing. Hingga seluruh lampu kota meredup perlahan.

Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu (Iwan Fals)

Tabir gelap yang lalu hinggap
Lambat laun mulai terungkap
Labil tawamu tak pasti tangismu
Jelas membuat aku sangat ingin mencari

Apa yang tersembunyi dibalik manis senyummu
Apa yang tersembunyi dibalik bening dua matamu

Dapat kutemui mengapa engkau tak pasti
Lalu aku coba untuk mengerti

Saat engkau tiba disimpang jalan
Lalu engkau bimbang untuk tentukan
Arah mana tempat tujuan

Jalan gelap yang kau pilih
Penuh lubang dan mendaki
Jalan gelap yang kau pilih
Penuh lubang dan mendaki

(dalam detik yang sulit untuk beranjak pada menit)

Lonesome?

Bersama damai yang berkedip pada bintang, aku berteriak

Bersama lekat yang berlinang pada rotasi, aku berlari

Bersama diam yang bertatap pada dimensi, aku tak bertemu

7

Tidak seperti pagi-pagi yang lalu, detak jam itu terdengar begitu lambat. Laju udara yang biasanya merapat untuk melegakan sela-sela rongga dada justru terasa kian sesak. Sepertinya ada yang membuat ini semuanya menjelma menjadi asing yang tetap ditahan agar tetap dinanti. Satu., dua, tiga begitu seterusnya kejenuhan ini berhitung. Berharap urut-urutan angka itu tidak lagi sama dan bisa meloncat begitu saja. Agar dari satu dapat segera beranjak ke tujuh. Atau angka yang pertama adalah tujuh saja. Sebab aku menantinya di angka itu.

No Title

cinta kita terjebak dalam kata

aku mencarimu dalam bahasa

angin menerbangkannya

Putih Biru

edit

Aku ingin menjadi ilalang saja yang tak tuhan beri nafsu
Aku ingin jadi duri saja yang tak diberi Tuhan nurani tuk menyakiti
Aku ingin jadi binatang saja yang tak tuhan anugerahi akal
Karna pada kenyataanya aku selalu tidak bisa bertindak seperti manusia yang berakal jika berada di dekatmu. Perjalanan kita telah jauh
aku telah mendapat banyak pelajaran berharga dari mu
mengingatmu seperti melahap berton-ton cabe yang sisakan pedas, perih, panas dan air mata
Aku ingin muntahkan tapi rasa yang menyertai pedas dimulutku senyaman hartal nirwana

Read the rest of this entry »