Kekuatan Aneh.

Aneh. Sepertinya itu kata yang tempat untuk mendefinisikan segala yang bersemayam di kepala, bergelanyut di hati dan berjejal di setiap jejak perjalanan. Aneh karena akhirnya saya berani menulis lagi, berani keluar dari tempat persembunyian selama ini. Sembunyi? Tampaknya memang begitu. Saya berlindung dari banyak hal yang berputar di sekitar imajinasi. Takut macam-macam benda itu tiba-tiba bertabrakan dan berpencar tak beraturan menimpa kesadaran saya, sakit, pening dan lalu terjatuh pingsan. Padahal menulis adalah aktivitas yang begitu saja menjadi rutinitas sejak saya SD.

Seolah sebuah wahyu terberi yang tidak perlu dipacu melalui kursus-kursus atau dipancing dengan nilai pelajaran mengarang Bahasa Indonesia. Terjadi dan mencinta begitu saja. Sampai saya pernah menulis berlembar-lembar cerita pendek juga puisi. Dulu waktu SMP saya bahkan belum mempunyai mesik ketik atau komputer tapi berhasil begitu produktif menuangkan segala imajinasi seorang ABG. Caranya, saya menulis tangan di sebuah buku besar yang khusus dibeli. Lalu meminta tolong seorang teman yang jauh lebih mapan waktu itu untuk mengetikannya lewat komputer.  Agak tidak enak memang. Tapi bagaimana lagi. Hanya berbekal menulis sebagus mungkin agar teman yang sudah direpotkan mengetik tidak bertambah tugas dengan menerjemahkan teks-teks yang sulit dibaca. Satu lagi bekalnya waktu itu, ucapan terima kasih dan selalu menjadi teman sebangkunya.

Tulisan itu memang tidak pernah menembus majalah-majalah komersil. Entahlah. Saya yang terlampau malas untuk terus menawarkan atau memang tulisanya tidak cukup menarik. Tulisan itu hanya berhenti menjadi hiburan teman-teman sekelas. Mereka selalu menjadi pembaca-pembaca setia setiap cerpen selesai diketik. Senangnya bukan main dapat memberikan hiburan alternativ pada teman-teman. Terkenal sebagai penulis di kelas  sudah cukup waktu itu. Tidak ada ambisi yang lebih. Sampai akhirnya SMA. Ada kesempatan untuk menjadi wartawan kecil di sebuah media. Saya ikut melamar tentunya dengan mengorbankan rasa takut pada panitia ospek. Karena jadwal wawancaranya kebetulan sama dengan jadwal ospek. Tapi rupanya waktu itu saya lebih memilih sesuatu yang kelak menjadi bagian indah dalam masa depan yang saya pilih. Bangga rasanya mengenang saat itu. Bisa mengalahkan rasa takut terhadap sekelompok orang yang ingin menjadi sok dominan pada murid-murid baru. Huuuu bagi penganut ospek dengan kekerasan!

Kembali pada menjadi wartawan. Ya, di sini meski disertai dengan serangan rasa cemburu atau iri atau yang sekarang saya kenal dengan istilah political office dari para pekerja lawas, toh banyak sekali keberpihakan yang membawa saya pada pengalaman menarik. Saya bertemu banyak orang, berbicara dengan berbagai macam karakter, berpose dengan para senyum awak-awak cerdas, dan sebagainya, dan sebagainya. Waktu itu memang saya tidak terlalu mengerti banyak tentang arti menjalani profesi wartawan cilik dengan bayaran makan siang tersebut. Saya tahunya hanya senang karena setiap Minggu ada nama ‘desi’ di sudut kanan akhir artikel pada halaman 3 harian tersebut. Tidak jarang pula untuk menambah semangat, sang pemimpin redaksi (mas cemplon yang belakangan ingin sekali saya temui) menampilkan foto-foto awak yang bertugas minggu itu. Senang, karena pasti orang-orang di kampung atau pejabat sekolah yang berlangganan akan dengan jelas melihat keberadaan saya.

Tapi sekarang saya begitu paham akan banyak makna dari proses-proses tersebut. Tentang kesempatan, keberanian, kecintaan dan yang paling penting adalah tentang kekuatan sebuah tulisan. Kekuatan itu berangsur-angsur mendorong saya untuk akhirnya menerbitkan beberapa karya. Saya mampu menemukan cinta yang artinya kehidupan itu sendiri dengan pilihan untuk menularan energi melalui tulisan. Tidak sebagai tukang tato, peramal, penjual bunga, penjahit yang tentu sama-sama memiliki kekuatan tersendiri untuk mengalirkan kecintaan. Meskipun ada pada saat-saat tertentu saya akhirnya memilih untuk sembunyi. Saya memilih untuk berdiam di balik sesuatu yang bisa menyamarkan badan saya, pikiran saya, kata-kata saya bahkan tulisan-tulisan saya.

Tidak tahu persis penyebab saya enggan untuk menulis. Yang saya pahami waktu itu saya sudah mulai menjadi pekera profesional yang semakin ketat social order penentu nilai dalam berinteraksi. Jangan sampai terlalu ganjen mengumbar yang personal, sebisa mungkin menjadi orang yang berwibawa dan terus mengasah wawasan. Setidaknya itu yang saya tangkap waktu itu meski terus menjadi perdebatan batin tersendiri. Saya mulai goyah. Apakah menulis tentang sesuatu yang personal di blog (seperti kebiasan dulu) itu ganjen dan kurang intelek? Apa curhat di blog sendiri yang notabene akan dibaca banyak orang itu terlalu bergaya tidak dewasa? Atau perasaan pribadi yang akan diketahui publik itu perbuatan sembrono? Saya sibuk mencari jawaban-jawaban itu.

Saya merasa harus menentukan area menulis saya dengan lebih konsisten demi karier dan anggapan publik di mana saya tinggali sekarang. Proses yang saya kira lebih kompleks daripada yang saya tulis itu membuat saya biarkan blog bayaran saya menganggur dihantam virus begitu saja tanpa kalimat-kalimat yang baru. Saya tidak juga mengirimkan opini-opini agar dimuat di media. Saya lebih sering berada dalam sebuah ruang berdinding tinggi yang hanya menyediakan sedikit celah sebagai media berkomunikasi. Saya akan menulis jika ada yang memesan lewat celah kecil itu tanpa harus bertemu, berdiskusi atau berjanjian.

Dulu setiap kali dimuat saya pasti akan girang karena akan eksis dan mendapatkan bayaran. Tapi pada fase persembunyian saya itu, bayaran tidak lagi menjadi hal yang saya rindukan. Eksistensi juga saya hadapi dengan rasa biasa yang menjurus pada dingin. Apakah kondisi ini membuat saya tidak nyaman? Pasti. Saya kehilangan kekuatan untuk mengalirkan energi artinya saya memiliki energi yang terlalu berlebih. Tidak ada lagi hangat. Adanya hanya rasa panas yang sangat panas atau dingin yang begitu dingin. Tak terbagikan.

Terkadang terpikir juga apakah saya sedang hendak bermutasi soal pilihan kekuatan? Memang agaknya jadi lebih mirip proses pencarian jati diri. Kadang pikiran semacam itu membuat geli dan tertawa. Kegelisahan itu ternyata tidak pernah berujung. Manusia yakni saya ingin selalu menyelesaikan masalah untuk menciptakan masalah berikutnya. Seperitnya tanpa rasa gelisah, perjalanan hidup ini seperti hampa begitu saja. Dan waktu-waktu saya bersembunyi itu bukan kehampaan. Tapi kegelisahan baru yang ingin dicari pemecahannya. Saya menjadi terus memutar-mutar rekaman masa lalu dan mengkhayalkan masa depan saat keinginan menulis itu datang tapi tak pernah berhasil dilakukan.

Tapi sekarang sepertinya saya tidak peduli lagi dengan ujung dari kegelisahan-kegelisahan tersebut. Tentang menulis personal atau tidak. Ini kekuatan saya maka hanya saya yang paham tentang cara mengelolanya. Personal dan tidak itu adalah kemasan dan penilaian. Tulisan-tulisan ilmiah dengan mencantumkan referensi hingga catatan kaki juga sesuatu yang personal. Karena ada basis pilihan tentang cara pandang yang digunakan. Dan pilihan itu adalah personal. Mungkin saya sudah berhasil menemukan kegelisahan baru saya sehingga memutuskan untuk melihat hal personal dengan cara demikian. Sehingga saya memutuskan untuk kembali menulis dengan lebih membebaskan. Karena tanpa disadari saya sebenarnya selalu membiarkan energi-energi yang berhamburan dalam tubuh dan jiwa saya ini dengan begitu bebasnya. Buktinya saya tidak menolak untuk sembunyi atau saya tidak menolak untuk menyerah dari persembunyian. Saya menulis lagi. Saya memilih kekuatan itu lagi sebagai alat penyalur energi saya. Karena saya ingin cinta yang itu artinya hidup.

Pendidikan Makna di Hari Kartini

Dimuat di ICBC News

Jika merunut masa lalu maka ingatan kita akan bermain pada suasana masa kecil yang meriah setiap tanggap 21 April. Hari menjadi harus lebih cepat untuk diawali karena kebaya dan konde sudah menunggu untuk dikenakan. Orang tua kita akan menerangkan bahwa hari tersebut adalah hari Kartini sehingga harus berdandan dan berpakaian adat. Namun penjelasan mengenai hubungan antara hari Kartini dengan baju adat cenderung tidak disertakan. Sehingga pengetahuan kanak-kanak saat itu hanya sebatas pada bersikap sebaik mungkin saat melenggang dengan baju adat yang mungkin hanya sekali dalam setahun. Selebihnya menjadi sebuah pertanyaan yang mungkin dapat terjawab ketika dewasa kelak bahkan tidak sama sekali seumur hidup. Ironis memang. Sebuah perayaan hari kelahiran seorang pahlawan emansipasi perempuan terancam menjadi berhenti pada simbolisasi kebaya, konde, atau pakaian adat lainnya belaka. Hal ini setidaknya pernah menjadi perhatian insan media setahun yang lalu. Dalam pemberitaanya, reporter TVRI (Televisi Republik Indonesia) (2008) mewawancari beberapa anak-anak yang tengah merayakan hari Kartini di sekolah. Mereka ditanya tentang makna mengenakan baju adat di hari Kartini. Hampir semua anak tidak mengetahui secara pasti substansi perayaan hari itu. Realitas tersebut tentu menjadi refleksi tersendiri bagi para pejuang perempuan. Cara memperingati yang bersifat seremonial tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk kegagalan dalam menyampaikan pendidikan senstitiv gender pada anak. Padahal persoalan ketimpangan seperti yang juga diungkapkan Kartini merupakan persoalan kultural. Di mana aspek pendidikan dan sosialisasi menjadi faktor penentu konstruksi berpikir dan bertindak seseorang. Inilah hal yang penting untuk dicermati bahwa momen hari Kartini ternyata memiliki suatu peluang yang strategis untuk memberikan wacana sensitive gender bagi para generasi yang sedang tumbuh.

Dalam sejarahnya hari Kartini merupakan sebuah peringatan hari lahir Kartini sendiri yang tepat pada tanggal 21 April. Hal ini merupakan sebuah penghormatan kepada Kartini atas kiprahnya dalam mewacanakan emansipasi perempuan. Pada surat-surat Kartini, kita dapat menemukan banyak pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya mengenai penyimpangan budaya di Jawa yang dipandang sebagai tekanan yang menghambat masa depan dan kemajuan perempuan. Kartini begitu kuat menginginkan perubahan terhadap perempuan agar memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini mengungkapkan ide dan cita-citanya, seperti yang tercatat dalam : Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu berpijak pada Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), yang dilengkapi dengan dengan humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan nasionalisme (cinta tanah air). Read the rest of this entry »

…..

sedang tidak ada waktu

untuk sedikit bermutu

biar saja begini membeku

seperti iringan salju

yang membuat matahari enggan beradu

Menulis. Saya sepertinya sedang mengalami masalah dengan kata tersebut. Bukan karena saya sudah menjadi frigid dalam keahlian merangkai kata hingga kalimat, tapi lebih pada suatu kebuntuan tentang tema apa yang hendak saya tulis. Mungkin keresahan tersebut akibat terlalu banyak hal yang saya alami dan lihat akhir-akhir ini. Sekilas memang seperti bukan hal yang mewah untuk dipikirkan sehingga tampak seperti membesar-besarkan hal yang sederhana. Tapi itulah kebenaran. Di mana menulis sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Entah hal tersebut hadir akibat arahan lingkungan sosial saya atau memang itu terberi begitu saja. Ya, ini semakin tidak penting lagi untuk direnungkan. Yang jelas jika Socrates mengatakan, ‘aku berpikir maka aku ada’, maka saya lebih memilih secara ganjen bahwa ‘aku menulis maka aku ada’.

Kembali pada persoalan kebingungan saya dengan menulis. Jujur, sebetulnya ketidakberhasilan saya untuk tidak menulis selama hampir satu bulan ini benar-benar membuat saya frustasi. Read the rest of this entry »

My Mun (Bagian 1)

Mun,

Begitulah aku memanggilmu sebagai cara mengagumimu. Aku tidak tahu apakah kau segenap hati sepakat dengan keputusanku memberimu nama baru itu. Namun yang pasti, aku merasa sangat senang karena bisa memperlakukanmu secara istimewa. Sebab bagiku yang istimewa berarti yang berbeda. Dan aku berani bertaruh bahwa tidak ada yang menyebutmu begitu selain diriku. Hopefully, it can give you a bit comfortable, as well.

Mun,

Ah, aku kembali seperti manusia yang seperempat dewasa. Ini memang gila. Masa mengingatmu saja bisa membuat pipi ini merona dan sulit menghentikan tarikan bibir yang terus memaksa membentuk lengkungan simetris. Kau memang luar biasa , Mun. Aku jadi ingat tentang apa yang terjadi tadi pagi. Seperti biasa kau mengawali hari dengan berjalan menuju arah selatan. Perjalananmu agak terganggu sepertinya karena jalanan becek akibat hujan yang cukup deras semalam. Tapi kau tetap melenggang dengan menebarkan keramahan juga kesederhanaan. Gayamu hampir tidak mengalami perubahan yang besar sejak dulu. Aku pikir penilaianku ini cukup beralasan. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghafalkan seluruh kebiasaan-kebiasaan unikmu. Rentang masa yang panjang itu juga sulit untuk aku tidak bisa menerima sisi menyebalkanmu dengan gembira. Seperti pagi tadi, tidak sedikit kau mengumpat di sela senyumu pada orang-orang di sepanjang jalan. Kau tidak suka hujan dan basah, itu aku paham. Karena menurutmu basah itu adalah salah satu gerbang menuju kotor. Dan tidak bersih itu sama sekali bukan pasangan tepatmu yang hanya memiliki baju berwarna putih.

“Stupid moment! And very damn!”, begitu katamu sepanjang perjalanan.

“Hahahaha”, aku menyemarakkan kekesalanmu, Mun. Katakan saja semua yang ada di benakmu. Supaya kau lega. Kalau perlu lakukan apa saja yang kauinginkan padaku. Aku pasti akan menikmatinya dengan biasa. Sebab kenyamananmu adalah yang utama bagiku. Read the rest of this entry »

Kisah Si Bapak

“Untuk apa memberikan materi peran perempuan pada masyarakat??!!”

Pertanyaan tersebut terdengar lebih mirip dengan hardikan. Kata-kata tersebut jelas ditujukan tepat di depan hidung mancung kami saat hendak meminta konfirmasi perihal undangan pembicara pada salah satu pejabat pemerintah siang itu. Mungkin hal tersebut dilakukan agar kami lebih kaya dalam hal perspektif. Tapi bisa juga sikap itu sebagai pencitraan seorang penguasa yang ingin menunjukan superioritasnya belaka tanpa substansi yang jelas.

Perbincangan dengan sang pejabat diawali dengan urusan perijinan dengan ajudan. Waktu itu kami menginginkan sang pejabat dapat memberikan materi tentang kebijakan pemerintah yang terkait dengan bencana. Hal ini kami inisiasi agar komunitas dampingan dapat termotivasi untuk bahu membahu mewujudkan sebuah kelompok yang berketahanan (cieeee). Tadinya, ajudan menyarankan agar tidak perlu menemui sang pejabat, karena materi-materi yang kami minta sudah sering bapak presentasikan. Jadi bapak sudah dapat dikategorikan ‘khatam’, tanpa perlu diberikan arahan lagi. Sampai disini, saya merasa geli juga. Apa mungkin seorang pejabat sekelas itu akan menggunakan lembar-lembar presentasi yang sama pada setiap kesempatannya tampil. Padahal belum tentu kelompok yang akan diceramahi tersebut memiliki karakteristik yang sama baik dari segi intelektualitas, kultur, maupun posisi politisnya. Siapa ini yang gila? Ajudannya yang sok tahu atau memang itu amanah dari seorang pejabat yang malas untuk sedikit berpikir? Read the rest of this entry »

Wajah Perempuan di Parlemen

Dimuat di www.mediabersama.com tanggal 31 Desember 2008

Kontroversi dalam penyelenggaraan pemilihan umum 2009 kembali terjadi. Kali ini berkaitan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai penghapusan nomor urut. Beberapa partai politik mendukung regulasi tersebut demi mendorong keberhasilan proses demokrasi. Sebab dalam sistem nomor urut, calon anggota legislatif yang ada pada nomor urut belakang cenderung memiliki peluang yang kecil untuk menang. Suara yang berhasil didapatkan akan dilimpahkan kepada ccalon dengan nomor urut jadi.

Selain merugikan beberapa calon, para pemilih juga sering mengalami kekecewaan. Sebab calon yang dipilihnya justru tidak menang sementara yang tidak diminati justru mampu duduk di parlemen. Maka gagasan penghapusan nomor urut tersebut selain memberikan porsi persaingan yang lebih progresif juga dapat membuat para pemilih merasa tidak sia-sia untuk memberikan suaranya.

Namun hal ini tidak sejalan dengan beberapa calon perempuan. Dalam proses pemenuhan kuota 30% sendiri perempuan sudah mengalami beberapa kendala. Mulai dari terbatasnya sumber daya perempuan yang bersedia mencalonkan diri sebagai anggota parlemen hingga pandangan minor dari kultur patrarkhi yang terus menghujam kepercayaan diri kandidat perempuan. Apalagi saat ini ditambah dengan penghapusan sistem nomor urut. Hal ini praktis membuat perempuan harus memutar otak menentukan strategi kampanye yang jitu. Read the rest of this entry »

Aku Berubah?

Kenapa kamu berubah sekarang? Aku sepeti tidak mengenalmu lagi?

Dua pertanyaan itu terdengar sambil lalu, tapi ternyata justru menjadi sesuatu yang tidak berhenti di pikiranku. Karena pertanyaan itu muncul dari orang yang teramat dekat denganku. Dua perempuan luar biasa yang selalu ada dan akan ada itulah yang bicara langsung di depan kesadaranku, bahwa yang kulakukan dan kuucapkan seperti bukan lahir dari diriku yang sejati. Aku berubah? Kembali aku mempertanyakan itu pada diriku sendiri. Bagaimana, mengapa, dimana, siapa bahkan mungkin apa? Kata-kata itu mejadi penyerta kemudian. Setelah kupikir-pikir, memang ada benarnya mereka. Lagi pula terlalu sulit juga bagiku untuk tidak membenarkan mereka. Sebab keberadaan yang lama mungkin membuat mereka justru lebih paham tentang siapa diriku berikut kebiasaan-kebiasaanku, mulai dari yang norak sampai yang kelewat santun.

Yeahhh, semua berawal dari pertemuan dunia maya yang hampir tidak pernah absen kita lakukan. Oh Tuhan, chatting saja bisa gitu hanya dengan mereka. Tapi memang kok, duniaku terasa begitu nyaman meskipun hanya bicara dengan dua cecunguks (pake s) ini (hihihi). Tadinya kita hanya ngobrol tentang rencana tahun baru atau jadwal jalan-jalan selanjutnya. Tapi bukan kita kalau akhirnya tidak jadi merumpikan hal-hal pribadi. Hahaha… sepertinya memang sudah lama tidak ada yang privat pada kami bertiga. Persahabatan ini terlalu menggairahkan untuk sebuah rahasia. Maka, saat tiba giliran aku bercerita (jane yo ra sengojo ki, terbawa suasana kalian saja), mereka heran dengan yang kurasakan.

”Gila, itu hal ga penting untuk kau pendam”, mereka berteriak (chatting ko iso bengok-bengok).

”Speak up aja kenapa sii?? Desi gitu lo!”, belum sempat aku membela diri dan menjelaskan, mereka sudah mengamunisi lagi.

Mudah saja aku bicara. Tidak ada alasan yang rumit yang mencegahku untuk bicara. Itu jika merujuk pada kapasitas dirku sebagai manusia. Tapi sekali lagi, aku tidak mau dianggap merasakan atau berpikir tentang sesuatu yang sama sekali ada di dalam hatiku maupun otakku. Read the rest of this entry »

Kecantikan yang Egois

Perjalanan ini terlampau singkat untuk merapatkanmu pada sela nafasku yang panjang. Dalam setiap tarikan yang sulit untuk tersengal, kau seperti merengek ingin juga aku hirup. Tapi aku sungguh takut itu akan membuatku sesak dan menghentikanmu. Bersandarlah dulu sejenak disini, di dalam kehangatan yang erat, mungkin juga sangat. Aku bersumpah tidak akan mengingkarimu dalam batas kendali. Seluruhnya telah beratur dan berurutan. Kita pasti akan mengadu seluruh indra dalam basah peluh, dengan teriakan yang bebas kau suarakan. Tapi kali ini aku ingin hanya ada aku dan kau. Hanya ada kita dan kecantikan egois yang sempurna. Maka tunggulah, sampai semua orang terlelap dengan kepastiannya masing-masing. Hingga seluruh lampu kota meredup perlahan.

The Veil of Veiled Woman

Live in the place that is full of structure and cultural meaning, creates the unique dynamic. There are in the diversity point of view, dynamic of value realization, even conflicts. They likes of the environment that I do interact. I am a woman that grows in the society with the quite strong theology understanding, though I am not faithful like them. In this society, a woman is constructed as an asset, because the role is only as a reproductive source. This perspective makes the culture to defend the woman wholeness is implanted and inherited by go on. The wholeness here means the virginity value. The ‘good’ woman is only that the own hymen was torn by the legal husband genital. Thus, to protect the woman so that she always remembers that tradition, she should wear veil. It is called culture, something engaging that it particularly will form the social relation structure, social praxis, the symbolic systems and engage the identity group, cohesively.

 

Besides, the culture concept is a concept that will grow and follow the social change, involving all people activities. It relates with the value displacement of the veil and virginity. By the time, Virginity is not the absolute element in pretending the ‘good’ woman. Tradition of giving the hymen in ‘marriage first night’ is deemed as a gift to patriarchy power. Anyway, there is no rule of defending the ‘bachelorhood’. By the same token, the woman who is not virgin before the right time, whatever the reason, will accept the normative stigma. Woman, lastly, builds awareness, that her body has right to choose the own interaction object. Then, how about the veil? Here, veil experiences the value displacement that turns so far. Using the veil seems to use the ‘chasing’. It is only an expressive accessory. Veil appears as a symbol of a fashion, not a ‘virgin’ fortress, so that the woman always becomes the person without any ‘disrepute’. Based on that, we find the strong relation between the culture, value system, and the implication in social system. Since the culture has the strong relation with the humanity and social dimension, so the culture understanding is not defined as an ‘artifact’ but the process that can explain the social change direction.

 

The concept of culture is also appeared in the space and time that will provide the different understanding about role and essence culture, in the next. Since, so many people still agree with the culture to defend ‘virginity, through the different analysis.  Society in this discussion, says that keep the ‘virginity’ and ‘bachelorhood are two important things. This culture becomes the foundation in keeping public health. Since the endemics of HIV.AIDS, STD (Sexually Transmitted Disease) is assumed as the concrete implication of free sex activity. There is not only stopping in the normative idealism, but also in the veil symbolization. Now, we can find the logic explanation about relation of veil and virginity than before. ‘Veil’ is not only for head covering, but it is pressured on manifestation of self defensive of ‘body genital’. So, man should wear ‘veil’ as well so that the culture of interaction in society becomes discursive and transformative not dominative. Some action rationalities, that are written in above come in to the lexical conclusion that the word of ‘culture’ has the fluid meaning, covered by ratio and formulation.